Serang, 9 September 2026 – Kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di Provinsi Banten mengalami lonjakan signifikan di tengah paparan abu vulkanik akibat erupsi Gunung Anak Krakatau. Pemerintah Provinsi Banten mencatat jumlah kasus yang dalam kondisi normal berada di kisaran 2.000 kini meningkat menjadi sekitar 4.500 berdasarkan laporan terbaru di lapangan. Peningkatan tersebut menjadi perhatian serius karena terjadi ketika kualitas udara di sejumlah wilayah masih terdampak material vulkanik. Gubernur Banten Andra Soni mengatakan kondisi kesehatan masyarakat menjadi salah satu pertimbangan pemerintah memperpanjang Pembelajaran Jarak Jauh bagi siswa SMA, SMK, dan Sekolah Khusus. Kebijakan belajar dari rumah diperpanjang hingga Jumat, 11 September 2026, untuk mengurangi aktivitas pelajar di luar ruangan. Pemerintah juga meminta masyarakat tetap menggunakan masker dan membatasi paparan abu meskipun intensitas erupsi dilaporkan mulai menurun.
Keputusan memperpanjang PJJ diambil setelah Andra memimpin rapat koordinasi dan pemantauan di Pos Pengamatan Gunung Anak Krakatau Pasauran, Kecamatan Cinangka, Kabupaten Serang, pada Selasa. Pertemuan tersebut melibatkan unsur pemerintah daerah, kebencanaan, kesehatan, lingkungan hidup, pendidikan, perhubungan, serta petugas pengamatan gunung api. Evaluasi dilakukan terhadap perkembangan aktivitas vulkanik sekaligus dampaknya terhadap masyarakat dalam beberapa hari terakhir. Salah satu temuan yang menjadi perhatian adalah meningkatnya jumlah warga yang mengalami gangguan saluran pernapasan setelah abu vulkanik menyebar ke sejumlah wilayah. Pemerintah menilai risiko kesehatan belum sepenuhnya berakhir sehingga aktivitas yang membuat masyarakat berada di luar ruangan dalam waktu lama perlu dikurangi. Pelajar menjadi salah satu kelompok yang mendapatkan perhatian karena aktivitas sekolah dapat meningkatkan mobilitas dalam jumlah besar.
Data Dinas Kesehatan Provinsi Banten sebelumnya menunjukkan sebanyak 4.058 kasus ISPA tercatat pada 7 September 2026. Kepala Dinas Kesehatan Banten Ati Pramudji Hastuti mengatakan jumlah tersebut meningkat sekitar dua setengah kali lipat dibandingkan kondisi harian normal yang menurut pencatatan sebelumnya berada di kisaran 1.000 hingga 1.500 kasus. Dalam perkembangan berikutnya, laporan lapangan yang diterima pemerintah menunjukkan jumlah kasus telah mencapai sekitar 4.500. Perbedaan angka kondisi normal yang disebutkan dalam sejumlah keterangan berkaitan dengan periode dan basis laporan yang digunakan, tetapi pemerintah memastikan kecenderungan peningkatannya cukup signifikan. Lonjakan tersebut terjadi bersamaan dengan periode penyebaran abu Gunung Anak Krakatau sehingga kewaspadaan terhadap gangguan pernapasan diperkuat. Dinas Kesehatan terus melakukan pemantauan untuk melihat apakah jumlah pasien kembali meningkat dalam beberapa hari mendatang.
Abu vulkanik menjadi perhatian karena partikel berukuran sangat kecil dapat terhirup dan mengiritasi saluran pernapasan. Keluhan yang dapat muncul antara lain batuk, tenggorokan terasa tidak nyaman, hidung berair, sesak, hingga memburuknya penyakit pernapasan yang telah dimiliki sebelumnya. Risiko menjadi lebih besar bagi anak-anak, lanjut usia, ibu hamil, serta masyarakat yang memiliki riwayat asma atau gangguan paru-paru. Paparan juga dapat menimbulkan iritasi pada mata dan kulit apabila konsentrasi material vulkanik cukup tinggi. Karena itu, masyarakat diminta menggunakan masker yang dapat memberikan perlindungan memadai ketika terpaksa melakukan kegiatan di luar rumah. Pemerintah juga mengingatkan warga tidak menganggap kondisi telah sepenuhnya aman hanya karena abu yang terlihat di udara mulai berkurang, sebab partikel yang telah mengendap dapat kembali beterbangan akibat angin maupun aktivitas kendaraan.
Pemprov Banten telah menyiagakan fasilitas dan tenaga kesehatan untuk menghadapi kemungkinan peningkatan jumlah pasien akibat paparan abu vulkanik. Kesiapsiagaan dilakukan melalui rumah sakit, puskesmas, laboratorium kesehatan masyarakat, balai kekarantinaan, hingga pos kesehatan sesuai tingkat risiko masing-masing wilayah. Dinas Kesehatan sebelumnya menerbitkan instruksi agar layanan kesehatan meningkatkan kesiapan dan memberikan respons cepat terhadap masyarakat yang mengalami keluhan, khususnya gangguan pernapasan. Fasilitas kesehatan juga diminta melakukan pencatatan kasus secara teratur sehingga perubahan jumlah pasien dapat diketahui dengan cepat. Langkah tersebut diperlukan untuk menentukan apakah suatu wilayah membutuhkan tambahan obat, tenaga medis, masker, maupun dukungan pelayanan lainnya. Pemerintah ingin memastikan lonjakan pasien tidak membuat fasilitas kesehatan kewalahan apabila paparan abu berlangsung lebih lama.
Perpanjangan PJJ menjadi salah satu tindakan pencegahan yang dipilih untuk melindungi kelompok usia sekolah. Andra menilai kesehatan siswa harus menjadi prioritas karena kualitas udara belum dianggap cukup aman untuk menjalankan seluruh kegiatan pembelajaran secara normal. Dengan belajar dari rumah, mobilitas pelajar dapat dikurangi sekaligus menekan kemungkinan mereka terpapar abu selama perjalanan maupun ketika melakukan aktivitas di lingkungan sekolah. Pemerintah akan terus mengevaluasi situasi sebelum menentukan apakah kegiatan belajar tatap muka dapat kembali dilakukan setelah 11 September. Keputusan tersebut akan mempertimbangkan perkembangan kualitas udara, aktivitas Gunung Anak Krakatau, serta kondisi kesehatan masyarakat. Sekolah juga diharapkan tetap menjaga komunikasi dengan orang tua agar proses pembelajaran berjalan tanpa mengabaikan keselamatan siswa.
Aktivitas Gunung Anak Krakatau sendiri masih berada pada status Siaga atau Level III yang telah berlaku sejak 2 Juli 2026. Meskipun intensitas erupsi dalam pengamatan terbaru dilaporkan mengalami penurunan, gunung tersebut masih menunjukkan aktivitas vulkanik sehingga kewaspadaan belum dapat dikurangi. Kepala Pos Pengamatan Gunung Anak Krakatau Pasauran M. Nugraha Kartadinata menjelaskan erupsi yang berlangsung masih memiliki karakter strombolian. Aktivitas tersebut tidak hanya menghasilkan abu, tetapi juga dapat melontarkan material batuan hingga jarak lebih dari dua kilometer dari pusat erupsi. Atas kondisi itu, rekomendasi larangan aktivitas dalam radius tiga kilometer dari Gunung Anak Krakatau tetap diberlakukan. Wisatawan, nelayan, maupun masyarakat lainnya diminta tidak memasuki zona tersebut dalam kondisi apa pun selama rekomendasi belum dicabut.
Andra mengatakan pemantauan terbaru juga menunjukkan Gunung Anak Krakatau masih mengeluarkan abu hitam, meskipun arah pergerakannya mulai bergeser menuju kawasan samudra. Perubahan arah angin dapat memengaruhi wilayah yang menerima paparan sehingga kondisi udara perlu dipantau secara berkelanjutan. Material abu yang sebelumnya telah jatuh di permukiman juga tetap harus ditangani secara hati-hati karena dapat kembali terangkat ke udara ketika kondisi kering dan berangin. Masyarakat dianjurkan membersihkan abu dengan metode yang tidak membuat debu semakin beterbangan serta menggunakan pelindung pernapasan dan mata selama proses pembersihan. Anak-anak sebaiknya tidak dilibatkan dalam kegiatan tersebut karena lebih rentan terhadap paparan partikel. Warga yang mengalami batuk berkepanjangan, sesak napas, nyeri dada, atau keluhan yang semakin berat dianjurkan segera mendatangi fasilitas kesehatan.
Lonjakan ISPA juga menunjukkan bahwa penanganan dampak erupsi tidak dapat hanya berfokus pada kawasan yang berada dekat dengan Gunung Anak Krakatau. Abu vulkanik dapat terbawa angin dalam jarak jauh dan memengaruhi wilayah dengan kepadatan penduduk tinggi sehingga langkah mitigasi harus mengikuti arah penyebarannya. Pemerintah daerah perlu terus menggabungkan data kesehatan, kualitas udara, meteorologi, serta aktivitas vulkanik untuk menentukan kebijakan yang paling tepat. Distribusi masker, kesiapan obat-obatan, pelayanan puskesmas, pengaturan kegiatan sekolah, dan penyampaian informasi kepada masyarakat menjadi bagian dari satu rangkaian penanganan. Koordinasi antardaerah juga diperlukan apabila sebaran abu bergerak melintasi batas kabupaten maupun kota. Dengan sistem pemantauan tersebut, perubahan risiko diharapkan dapat diketahui lebih awal sebelum menimbulkan peningkatan gangguan kesehatan yang lebih besar.
Pemprov Banten memastikan evaluasi akan terus dilakukan selama aktivitas Gunung Anak Krakatau masih berada pada tingkat Siaga. Jumlah kasus ISPA yang mencapai sekitar 4.500 menjadi peringatan bahwa dampak erupsi terhadap kesehatan masyarakat membutuhkan perhatian yang sama seriusnya dengan ancaman langsung di sekitar gunung. Pemerintah meminta warga tidak panik, tetapi tetap disiplin menggunakan masker, mengurangi kegiatan luar ruangan ketika kualitas udara memburuk, menjaga kebersihan lingkungan, serta mengikuti informasi resmi mengenai perkembangan aktivitas vulkanik. Fasilitas kesehatan tetap disiagakan untuk memberikan pelayanan apabila muncul keluhan pernapasan maupun gangguan lain akibat paparan abu. Perpanjangan PJJ hingga 11 September diharapkan memberikan waktu bagi pemerintah untuk melihat perkembangan kualitas udara sekaligus menekan paparan terhadap pelajar. Kebijakan selanjutnya akan disesuaikan dengan perkembangan erupsi, arah sebaran abu, kondisi udara, dan tren kasus ISPA sehingga aktivitas masyarakat dapat kembali normal tanpa mengabaikan faktor keselamatan.