Jakarta, 10 September 2026 – PT Astra International Tbk (ASII) menghadapi tekanan kinerja pada semester pertama 2026 setelah laba bersih perseroan turun cukup signifikan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Astra membukukan laba bersih sebesar Rp12,53 triliun, turun sekitar 19 persen dari Rp15,52 triliun pada semester pertama 2025. Pendapatan bersih konsolidasian juga mengalami penurunan sekitar 3 persen menjadi Rp157,91 triliun dari sebelumnya Rp162,86 triliun. Tekanan terbesar bukan berasal dari bisnis otomotif maupun jasa keuangan yang justru masih tumbuh, melainkan dari segmen Solusi Pertambangan dan Alat Berat. Kondisi tersebut membuat prospek pemulihan bisnis pertambangan menjadi salah satu faktor penting yang akan menentukan kinerja Astra hingga akhir tahun.
Jika tidak memperhitungkan pos yang bersifat tidak berulang atau non-recurring items, laba bersih Astra tercatat Rp14,89 triliun. Angka tersebut masih turun sekitar 7 persen dibandingkan Rp16,04 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya. Sementara itu, Astra mencatat non-recurring items sekitar Rp2,36 triliun yang terutama berasal dari penyesuaian nilai wajar investasi ekuitas dan penurunan nilai aset. Kombinasi melemahnya kontribusi bisnis pertambangan dengan beban tersebut membuat penurunan laba bersih yang dilaporkan menjadi lebih dalam. Laba bersih per saham Astra juga turun dari Rp383 menjadi Rp313.
Kondisi berbeda terlihat pada dua bisnis utama Astra lainnya. Segmen otomotif menghasilkan laba bersih sekitar Rp5,91 triliun atau meningkat 9 persen dibandingkan Rp5,40 triliun pada semester pertama 2025. Jasa keuangan juga mencatat pertumbuhan laba sekitar 6 persen menjadi Rp4,65 triliun dari sebelumnya Rp4,37 triliun. Sebaliknya, laba bersih Solusi Pertambangan dan Alat Berat sebelum memperhitungkan pos tidak berulang anjlok 46 persen menjadi sekitar Rp2,70 triliun. Pada periode yang sama tahun sebelumnya, segmen tersebut masih memberikan laba sekitar Rp5,02 triliun kepada Grup Astra.
Setelah memperhitungkan non-recurring items, tekanan terhadap bisnis pertambangan dan alat berat bahkan terlihat jauh lebih besar. Laba bersih yang dilaporkan dari segmen tersebut turun sekitar 88 persen menjadi hanya Rp607 miliar. Pos tidak berulang sekitar Rp2,1 triliun tercatat pada bisnis panas bumi dan nikel. Situasi tersebut memperlihatkan betapa besar pengaruh bisnis PT United Tractors Tbk (UNTR) terhadap kinerja konsolidasi Astra. Astra menjadikan Solusi Pertambangan dan Alat Berat sebagai salah satu dari tiga bisnis inti bersama otomotif dan jasa keuangan dalam strategi korporasi terbarunya.
United Tractors sendiri membukukan pendapatan bersih sekitar Rp58,3 triliun pada semester pertama 2026, turun 15 persen dibandingkan Rp68,5 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya. Laba bersih sebelum pos tidak berulang turun sekitar 48 persen menjadi Rp4,3 triliun. Tekanan tersebut terutama dipicu penurunan penjualan emas dari PT Agincourt Resources, melemahnya penjualan alat berat, serta dampak pengurangan alokasi Rencana Kerja dan Anggaran Biaya pertambangan batu bara nasional. United Tractors juga membukukan non-recurring items sekitar Rp3,3 triliun. Beban tersebut terutama berkaitan dengan penurunan nilai investasi pada bisnis panas bumi serta pembayaran terkait kegiatan sebelumnya di kawasan hutan pada Tambang Nikel Stargate.
Bisnis alat berat menjadi salah satu bagian yang paling merasakan dampak perubahan RKAB batu bara. Sepanjang semester pertama 2026, penjualan alat berat Komatsu turun 27 persen menjadi 1.994 unit. Tekanan masih terlihat hingga Juli, ketika penjualan kumulatif Komatsu tercatat 2.393 unit atau turun 23 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Penjualan big machine untuk sektor pertambangan bahkan turun sekitar 49 persen menjadi 405 unit. Penurunan aktivitas perusahaan tambang setelah penyesuaian kuota produksi otomatis mengurangi kebutuhan terhadap alat berat berkapasitas besar.
Tekanan juga terjadi pada bisnis kontraktor pertambangan yang dijalankan melalui PT Pamapersada Nusantara dan PT Kalimantan Prima Persada. Hingga Juli 2026, volume pemindahan lapisan tanah tercatat sekitar 573 juta bank cubic metre, turun 10 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Produksi batu bara untuk pelanggan juga turun sekitar 3 persen menjadi 80 juta ton. Meski volume operasional mengalami penurunan, pendapatan segmen kontraktor pertambangan pada semester pertama masih tumbuh sekitar 4 persen menjadi Rp27,2 triliun. Penguatan nilai tukar dolar AS menjadi salah satu faktor yang membantu menopang pendapatan bisnis tersebut.
Pada bisnis pertambangan batu bara milik sendiri, Turangga Resources juga menghadapi penurunan volume. Hingga Juli 2026, penjualan batu bara tercatat sekitar 6,5 juta ton, termasuk 1,8 juta ton batu bara metalurgi. Volume tersebut turun sekitar 18 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025. Pendapatan segmen pertambangan batu bara termal dan metalurgi pada semester pertama turun sekitar 4 persen menjadi Rp12,9 triliun. Penyesuaian RKAB menjadi salah satu penyebab utama karena perusahaan sebelumnya memperoleh alokasi produksi yang lebih rendah dibandingkan rencana awal.
Namun, terdapat peluang perbaikan setelah United Tractors memperoleh revisi kuota batu bara melalui PT Tuah Turangga Agung. Alokasi yang sebelumnya sempat dipangkas dari rencana sekitar 15 juta ton menjadi 7,4 juta ton kini telah direvisi menjadi sekitar 9,6 juta hingga 9,8 juta ton. Tambahan tersebut diharapkan meningkatkan kembali aktivitas pertambangan pada semester kedua. Efeknya tidak hanya berpotensi meningkatkan penjualan batu bara milik sendiri, tetapi juga dapat memberikan dampak terhadap permintaan alat berat dan aktivitas kontraktor pertambangan. Meski demikian, faktor cuaca dan kondisi logistik tetap menjadi risiko yang harus diperhatikan hingga akhir tahun.
Bisnis emas menjadi faktor lain yang diharapkan membantu pemulihan. Tambang Emas Martabe sempat menghentikan operasional selama beberapa bulan pada awal 2026 sehingga penjualan emas Astra melalui United Tractors turun sangat tajam. Pada semester pertama, penjualan emas hanya mencapai sekitar 23.000 ons dibandingkan 125.000 ons pada periode yang sama tahun sebelumnya. Kondisi tersebut membuat pendapatan segmen pertambangan emas dan mineral lainnya turun sekitar 66 persen menjadi Rp2,4 triliun. Setelah Martabe kembali beroperasi pada kuartal kedua, volume produksi mulai menunjukkan pemulihan dan United Tractors memperkirakan penjualan emas sepanjang 2026 dapat berada di kisaran 65.000 ons.
United Tractors juga semakin serius melakukan diversifikasi agar bisnisnya tidak terlalu bergantung pada batu bara termal. Perusahaan memperluas eksposur terhadap emas, nikel dan mineral lainnya sekaligus mempertahankan bisnis kontraktor pertambangan sebagai salah satu sumber pendapatan utama. PAMA dan KPP Mining mulai memperbesar aktivitas pada proyek mineral selain batu bara, termasuk emas dan nikel. Diversifikasi tersebut menjadi bagian dari strategi jangka panjang menghadapi perubahan struktur permintaan energi dan komoditas. Meski kontribusinya belum sepenuhnya mampu menggantikan batu bara, pengembangan portofolio mineral diharapkan menciptakan sumber pertumbuhan yang lebih berimbang.
Astra dan United Tractors pada saat bersamaan tetap menunjukkan kepercayaan terhadap fundamental jangka panjang melalui program pembelian kembali saham. Astra telah memperoleh persetujuan untuk menjalankan share buyback baru dengan nilai hingga Rp8 triliun selama 12 bulan, sementara United Tractors menyiapkan program serupa hingga Rp2 triliun. Sebelumnya, kedua perusahaan telah menyelesaikan pembelian kembali saham dengan total sekitar Rp7,4 triliun hingga akhir Juni 2026. Kebijakan tersebut menjadi bagian dari strategi alokasi modal Astra untuk meningkatkan imbal hasil kepada pemegang saham. Neraca keuangan dan disiplin penggunaan modal tetap menjadi perhatian di tengah tekanan terhadap salah satu bisnis intinya.
Dengan demikian, penurunan laba Astra pada semester pertama 2026 belum berarti bisnis pertambangannya kehilangan prospek, tetapi memperlihatkan besarnya tekanan operasional yang terjadi pada awal tahun. Penurunan RKAB batu bara, melemahnya permintaan alat berat, turunnya volume kontraktor pertambangan dan penghentian sementara Tambang Emas Martabe menjadi kombinasi yang menekan kontribusi United Tractors. Semester kedua menawarkan peluang perbaikan setelah revisi RKAB disetujui dan Martabe kembali berproduksi. Namun, manajemen masih melihat kondisi hingga akhir 2026 cukup menantang karena cuaca, logistik dan dinamika harga komoditas tetap dapat memengaruhi kinerja. Pemulihan bisnis pertambangan dan alat berat pada akhirnya akan menjadi salah satu kunci bagi Astra untuk memperbaiki pertumbuhan laba setelah mengalami tekanan cukup dalam pada paruh pertama tahun ini.