Jakarta, 21 September 2026 – Fenomena sound horeg dengan karakter suara sangat keras dan dentuman bass kuat kembali menjadi perhatian karena berpotensi memberikan dampak terhadap kesehatan. Dokter spesialis telinga, hidung, tenggorok, kepala dan leher (THT-KL) mengingatkan paparan suara berintensitas tinggi dapat menyebabkan penurunan kemampuan pendengaran, terutama apabila terjadi dalam waktu lama atau berulang. Risiko tersebut tidak hanya ditentukan oleh kerasnya suara, tetapi juga durasi dan frekuensi seseorang terpapar. Semakin tinggi tingkat kebisingan, semakin singkat pula waktu yang dianggap aman bagi telinga. Bahkan paparan tunggal terhadap suara yang sangat keras dapat menyebabkan kerusakan pada struktur telinga bagian dalam. Karena itu, masyarakat yang berada dekat sistem pengeras suara berdaya besar perlu memperhatikan jarak dan lamanya paparan.
Dokter spesialis THT-KL subspesialis neurotologi, Fikri Mirza Putranto, menjelaskan paparan suara dengan tingkat kebisingan setara sound horeg dapat memicu penurunan pendengaran. Berdasarkan penelitian yang dikemukakannya, sekitar satu dari empat orang yang terpapar suara setara sound horeg selama satu jam sudah dapat menunjukkan penurunan pendengaran yang bermakna. Gangguan pada tahap awal dapat terjadi pada frekuensi tertentu yang belum langsung mengganggu komunikasi sehari-hari. Kondisi tersebut membuat seseorang mungkin merasa pendengarannya masih normal meskipun sebenarnya sudah terjadi perubahan. Keluhan baru dapat terasa lebih jelas setelah paparan berlangsung berulang dan dalam jangka panjang. Gejala awal yang perlu diperhatikan antara lain telinga berdenging atau tinnitus serta kesulitan memahami percakapan ketika berada di tempat ramai.
Secara medis, suara keras dapat merusak sel-sel sensorik di koklea yang berperan mengubah getaran suara menjadi sinyal yang kemudian diteruskan ke otak. Ketika baru mengalami paparan, seseorang dapat merasakan pendengaran seperti tertutup atau muncul dengingan yang kemudian menghilang setelah beberapa waktu. Kondisi tersebut tidak berarti telinga selalu kembali sepenuhnya tanpa dampak. Paparan yang terlalu sering dapat membuat sel sensorik dan struktur lain di telinga mengalami kerusakan permanen. Berbeda dengan sejumlah jaringan tubuh lainnya, kerusakan sel sensorik pendengaran tertentu tidak mudah dipulihkan. Akumulasi paparan inilah yang dapat berkembang menjadi noise-induced hearing loss atau gangguan pendengaran akibat kebisingan.
Tingkat suara menjadi faktor penting dalam menentukan risiko tersebut. Organisasi Kesehatan Dunia menyebut suara sekitar 80 desibel dapat didengarkan hingga sekitar 40 jam per minggu dalam konteks pedoman mendengarkan aman. Ketika intensitas meningkat menjadi 90 desibel, durasi aman turun menjadi sekitar empat jam per minggu. Pada tingkat 100 desibel, waktu paparan aman menyusut drastis menjadi sekitar 20 menit per minggu, sedangkan 110 desibel hanya sekitar dua setengah menit. Artinya, peningkatan beberapa desibel bukan sekadar membuat suara terasa sedikit lebih keras, tetapi dapat mengurangi secara tajam durasi paparan yang relatif aman. Sound horeg yang menggunakan perangkat audio berdaya besar karena itu berpotensi menimbulkan risiko apabila pendengar berada sangat dekat dengan pengeras suara dalam waktu lama.
Selain gangguan pendengaran, muncul pertanyaan apakah sound horeg benar-benar dapat membuat fungsi otak menurun atau seseorang menjadi “lemot”. Guru Besar Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia Agustino Zulys menjelaskan belum ada penelitian primer di Indonesia yang secara langsung membuktikan bahwa sound horeg menyebabkan penurunan fungsi otak. Karena itu, pernyataan bahwa mendengar sound horeg secara otomatis membuat fungsi otak seseorang menurun tidak dapat disimpulkan begitu saja. Namun, paparan kebisingan berlebihan memang memiliki hubungan dengan berbagai dampak kesehatan yang lebih luas. Gangguan tidur, stres fisiologis, kesulitan berkonsentrasi, dan gangguan pendengaran dapat memengaruhi kemampuan seseorang menjalankan aktivitas sehari-hari. Hubungan antara kebisingan, pendengaran, dan fungsi kognitif juga merupakan bidang yang telah banyak diteliti secara internasional.
Gangguan pendengaran yang tidak ditangani diketahui berkaitan dengan dampak terhadap kemampuan kognitif, terutama apabila berlangsung dalam jangka panjang. Ketika kemampuan mendengar berkurang, otak membutuhkan usaha lebih besar untuk memahami informasi suara yang diterima. Seseorang juga dapat mengalami kesulitan berkomunikasi dan pada kondisi tertentu menjadi lebih jarang terlibat dalam interaksi sosial. Namun, hubungan tersebut tidak berarti suara keras langsung merusak otak dengan mekanisme yang sama seperti kerusakan sel pada telinga. Organisasi Kesehatan Dunia mencatat gangguan pendengaran yang tidak tertangani berkaitan dengan dampak terhadap kognisi dan peningkatan risiko penurunan kognitif. Karena itu, istilah “fungsi otak turun” perlu dipahami secara hati-hati dan tidak disederhanakan sebagai efek langsung setelah seseorang sesekali mendengar sound horeg.
Kebisingan berlebihan juga dapat memberikan efek selain pada sistem pendengaran. Paparan suara yang mengganggu dapat memengaruhi kualitas tidur, meningkatkan rasa tidak nyaman, mengganggu konsentrasi, serta menurunkan performa ketika belajar maupun bekerja. Dalam paparan lingkungan jangka panjang, kebisingan juga telah dikaitkan dengan sejumlah risiko kesehatan seperti hipertensi dan penyakit kardiovaskular. Dampaknya dapat berbeda tergantung tingkat suara, jarak dari sumber, lamanya paparan, kondisi lingkungan, serta kerentanan masing-masing individu. Anak-anak membutuhkan perhatian khusus karena lingkungan belajar yang terlalu bising dapat mengganggu konsentrasi dan proses menerima informasi. Lansia dan orang yang sebelumnya telah memiliki gangguan pendengaran juga perlu lebih berhati-hati.
Langkah perlindungan paling sederhana ketika berada di sekitar sound horeg adalah menjauh dari sumber pengeras suara. Intensitas suara yang diterima telinga akan berkurang ketika jarak dari sumber bertambah. Penggunaan pelindung telinga seperti earplug juga dapat membantu mengurangi tingkat suara yang masuk ketika seseorang harus berada di lingkungan sangat bising. Durasi berada di dekat pengeras suara sebaiknya dibatasi dan telinga perlu diberikan waktu beristirahat di lingkungan yang lebih tenang. Apabila setelah terpapar suara keras muncul dengingan yang menetap, pendengaran terasa berkurang, atau seseorang mulai kesulitan mengikuti percakapan, pemeriksaan pendengaran sebaiknya dilakukan. Gejala tersebut dapat menjadi tanda bahwa telinga telah menerima paparan suara melebihi kemampuan yang aman.
Fenomena sound horeg pada akhirnya perlu dilihat bukan hanya sebagai persoalan hiburan atau selera terhadap musik dengan volume tinggi, tetapi juga dari sisi kesehatan pendengaran masyarakat. Bukti medis mendukung bahwa suara keras dan paparan berkepanjangan dapat menyebabkan tinnitus hingga gangguan pendengaran permanen. Sementara klaim bahwa sound horeg secara langsung membuat fungsi otak menurun masih membutuhkan pembuktian yang lebih spesifik dan tidak tepat apabila disimpulkan secara sederhana. Risiko kesehatan akan meningkat ketika suara semakin keras, jarak semakin dekat, dan durasi paparan semakin panjang. Masyarakat tetap dapat menikmati kegiatan dengan sistem audio besar selama memperhatikan prinsip mendengarkan secara aman dan melindungi telinga. Pencegahan menjadi penting karena gangguan pendengaran akibat kebisingan dapat bersifat permanen dan baru disadari setelah kemampuan mendengar mulai terganggu.