New York, 23 September 2026 – Presiden Amerika Serikat Donald Trump membantah laporan yang menyebut persediaan amunisi negaranya semakin menipis akibat perang dengan Iran. Pernyataan itu disampaikan di tengah rangkaian Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa di New York pada Selasa, 22 September 2026. Trump menegaskan Amerika Serikat memiliki persediaan amunisi dalam jumlah besar dan terus meningkatkan kapasitas produksinya. Ia juga menolak anggapan bahwa tingginya penggunaan persenjataan selama konflik telah membuat militer AS kehilangan kemampuan untuk melanjutkan operasi. Pernyataan tersebut berlawanan dengan sejumlah laporan mengenai tekanan pada beberapa jenis persenjataan strategis AS.
Trump mengatakan klaim bahwa Amerika Serikat kekurangan amunisi tidak benar. Melalui unggahan di Truth Social, ia menyatakan AS memiliki lebih banyak amunisi daripada yang diperkirakan akan digunakan dan sedang meningkatkan produksi pada tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya. Pernyataan tersebut muncul setelah kekhawatiran mengenai persediaan senjata kembali menjadi pembicaraan di AS. Trump sebelumnya juga berulang kali menegaskan bahwa negaranya memiliki persenjataan yang cukup untuk menghadapi Iran. Gedung Putih mempertahankan posisi bahwa kemampuan militer AS tetap kuat meski konflik telah berlangsung selama berbulan-bulan.
Namun, laporan Inspektur Jenderal Departemen Pertahanan AS memberikan gambaran yang lebih kompleks. Laporan yang disampaikan kepada Kongres menyatakan penggunaan amunisi dalam Operation Epic Fury telah menimbulkan kekurangan pada inventaris strategis dan memperlihatkan hambatan kapasitas industri dalam mengganti persenjataan yang telah digunakan. Operasi militer terhadap Iran dari 28 Februari hingga 30 Juni diperkirakan menghabiskan biaya sekitar US$33,4 miliar. Dari jumlah tersebut, sekitar US$22,3 miliar digunakan untuk amunisi. Temuan itu tidak berarti seluruh persediaan senjata AS telah habis, tetapi menunjukkan tekanan pada beberapa kategori persenjataan penting.
Perbedaan antara pernyataan Trump dan laporan Pentagon terutama berkaitan dengan jenis amunisi yang dibicarakan. Amerika Serikat masih memiliki persediaan besar berbagai bom dan persenjataan konvensional yang dapat digunakan dalam operasi udara. Persoalan lebih besar berada pada sejumlah sistem berteknologi tinggi, termasuk rudal pertahanan udara dan senjata serangan presisi jarak jauh. Sistem seperti Patriot, THAAD, Tomahawk, Precision Strike Missile, serta beberapa keluarga rudal Standard Missile membutuhkan waktu dan kapasitas industri yang lebih besar untuk diproduksi kembali. Karena itu, kondisi persediaan tidak dapat digambarkan hanya dengan menyebut jumlah amunisi secara keseluruhan.
Analisis Center for Strategic and International Studies (CSIS) sebelumnya memperkirakan Amerika Serikat telah menggunakan sekitar separuh persediaan awal untuk beberapa jenis persenjataan, termasuk Patriot, THAAD, dan PrSM. Untuk sejumlah sistem lainnya seperti JASSM, Standard Missile, dan Tomahawk, penggunaan diperkirakan mencapai sekitar sepertiga persediaan awal. Meski demikian, analisis tersebut menyimpulkan AS masih memiliki persenjataan yang cukup untuk melanjutkan perang Iran dalam skenario yang dinilai masuk akal. Kekhawatiran terbesar justru berkaitan dengan kemampuan menghadapi konflik lain secara bersamaan. Pemulihan stok beberapa persenjataan strategis diperkirakan membutuhkan waktu bertahun-tahun.
Laporan lain sebelumnya menyebut penggunaan rudal serangan darat jarak jauh menjadi salah satu titik tekanan paling serius. Sejumlah pejabat mengatakan AS telah menggunakan hampir seluruh persediaan operasional tertentu dari Army Tactical Missile Systems dan Precision Strike Missiles selama perang Iran. Senjata tersebut memiliki fungsi penting untuk menyerang sasaran dari jarak jauh tanpa mengharuskan pesawat memasuki wilayah pertahanan udara lawan. Berkurangnya persediaan tidak otomatis membuat operasi militer berhenti karena Pentagon mempunyai alternatif persenjataan lain. Namun, alternatif tersebut dapat memiliki jangkauan, risiko operasional, dan karakteristik berbeda.
Trump sendiri sebelumnya mengakui bahwa kondisi persediaan berbeda untuk setiap jenis senjata. Dalam pernyataan pada Agustus, ia mengatakan beberapa kategori amunisi tersedia dalam jumlah sangat besar, sementara jenis lainnya berada dalam kondisi lebih ketat dan terus diproduksi. Ia menegaskan pemerintah ingin meningkatkan jumlah persenjataan karena harus mempertimbangkan kemungkinan munculnya kebutuhan keamanan lain. Pentagon juga meminta industri pertahanan meningkatkan kapasitas produksi. Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya mempercepat penggantian amunisi yang telah digunakan selama perang.
Persoalan persediaan semakin penting karena Amerika Serikat memiliki komitmen keamanan di berbagai kawasan selain Timur Tengah. Washington masih harus mempertimbangkan kebutuhan pertahanan di Eropa dan Indo-Pasifik serta perlindungan terhadap pangkalan dan sekutunya. Beberapa jenis rudal yang digunakan untuk menghadapi Iran juga menjadi persenjataan yang akan dibutuhkan apabila terjadi konflik besar di kawasan lain. Karena itu, para analis menilai persoalannya bukan sekadar apakah AS mempunyai cukup amunisi untuk melanjutkan perang Iran. Pertanyaan strategis yang lebih luas adalah seberapa besar cadangan yang tersisa apabila Amerika Serikat harus menghadapi krisis tambahan.
Trump tetap menolak anggapan bahwa tekanan tersebut menunjukkan Amerika Serikat kehilangan kemampuan militernya. Dalam pidatonya di PBB, ia mempertahankan keputusan pemerintahannya dalam menghadapi Iran sekaligus menyatakan kemungkinan tercapainya kesepakatan diplomatik. Ia juga kembali menegaskan bahwa Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir. Di sisi lain, laporan resmi Pentagon menunjukkan penggunaan persenjataan selama perang memang memberikan tekanan terhadap sebagian inventaris strategis. Dengan demikian, perdebatan saat ini lebih berpusat pada tingkat kesiapan stok tertentu dibandingkan klaim bahwa seluruh persediaan amunisi AS hampir habis.
Situasi tersebut membuat kapasitas produksi industri pertahanan menjadi bagian penting dari strategi AS setelah berbulan-bulan berperang dengan Iran. Pemerintah berupaya mempercepat produksi rudal, sistem pertahanan udara, dan amunisi presisi untuk mengganti persediaan yang digunakan. Trump menegaskan proses pengisian kembali stok berlangsung dengan cepat dan AS tetap memiliki kekuatan militer yang diperlukan. Namun, laporan Inspektur Jenderal Pentagon dan sejumlah analisis independen menunjukkan beberapa persenjataan strategis memang menghadapi keterbatasan. Perbedaan antara klaim pemerintah dan kondisi masing-masing jenis senjata diperkirakan akan terus menjadi perhatian selama perang Iran berlanjut.