Palangka Raya, 20 Oktober 2026 – Kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) di Kota Palangka Raya, Kalimantan Tengah, terus meningkat seiring memburuknya kualitas udara akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Dinas Kesehatan Kota Palangka Raya mencatat jumlah kasus ISPA telah mencapai 11.276 sejak Juni hingga Oktober 2026. Angka tersebut meningkat dari pendataan sebelumnya yang mencatat 10.233 kasus. Kondisi ini menjadi perhatian serius karena kabut asap masih menyelimuti sejumlah kawasan permukiman dan mengganggu aktivitas masyarakat. Pemerintah daerah terus memperkuat pelayanan kesehatan untuk mengantisipasi bertambahnya warga yang mengalami gangguan pernapasan.
Kabut asap pekat kembali menyelimuti Palangka Raya pada Selasa (20/10/2026), menyebabkan jarak pandang berkurang dan kualitas udara memburuk. Kondisi tersebut membuat masyarakat yang beraktivitas di luar ruangan menghadapi risiko paparan partikel berbahaya. Asap yang berasal dari kebakaran hutan dan lahan dapat mengandung partikel halus yang berpotensi mengiritasi saluran pernapasan. Paparan dalam waktu lama juga dapat memperburuk kondisi kesehatan warga yang memiliki penyakit pernapasan sebelumnya. Situasi ini mendorong masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan, terutama ketika konsentrasi asap semakin tinggi pada waktu tertentu.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Palangka Raya, Riduan, menjelaskan bahwa peningkatan kasus ISPA telah terlihat sejak memasuki musim kemarau pada pertengahan tahun. Berdasarkan data yang dihimpun, jumlah penderita ISPA pada Juni mencapai 1.849 kasus dan meningkat menjadi 2.293 kasus pada Juli. Lonjakan tertinggi terjadi pada Agustus dengan 3.104 kasus yang tercatat selama satu bulan. Sementara itu, pada September jumlah kasus berada di kisaran 2.900. Memasuki Oktober, Dinas Kesehatan kembali mencatat peningkatan dengan 1.743 kasus hingga pertengahan akhir bulan. Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa gangguan kesehatan pernapasan masih menjadi persoalan penting selama kabut asap berlangsung.
Peningkatan jumlah penderita ISPA tidak hanya terjadi pada kelompok usia tertentu, tetapi ditemukan hampir di seluruh lapisan masyarakat. Anak-anak menjadi salah satu kelompok yang membutuhkan perhatian khusus karena sistem pernapasan mereka masih berkembang. Lansia, ibu hamil, serta warga yang memiliki riwayat asma dan penyakit paru-paru juga menghadapi risiko lebih tinggi ketika terpapar asap. Gejala yang perlu diwaspadai meliputi batuk, pilek, sakit tenggorokan, sesak napas, hingga rasa tidak nyaman pada bagian dada. Apabila keluhan semakin berat, masyarakat dianjurkan segera mendatangi fasilitas kesehatan untuk mendapatkan pemeriksaan. Penanganan sejak dini diperlukan agar gangguan pernapasan tidak berkembang menjadi kondisi yang lebih serius.
Menghadapi peningkatan kasus tersebut, Pemerintah Kota Palangka Raya memperkuat kesiapsiagaan fasilitas pelayanan kesehatan. Sebanyak 11 puskesmas disiagakan untuk melayani masyarakat yang mengalami keluhan kesehatan akibat kabut asap. Selain itu, jaringan puskesmas pembantu turut dimanfaatkan untuk memperluas jangkauan pelayanan hingga kawasan permukiman. Sejumlah fasilitas kesehatan menyediakan layanan selama 24 jam agar masyarakat dapat memperoleh pertolongan ketika mengalami gangguan pernapasan. Pemerintah daerah juga mengoperasikan layanan oksigen untuk membantu warga yang membutuhkan penanganan awal. Ketersediaan tenaga medis, obat-obatan, dan fasilitas pendukung terus menjadi perhatian selama kondisi udara belum membaik.
Upaya perlindungan kesehatan juga dilakukan melalui pembagian masker serta penyediaan ruang bebas asap di sejumlah fasilitas pelayanan masyarakat. Dinas Kesehatan memberikan perhatian khusus kepada kelompok rentan yang membutuhkan perlindungan lebih besar dari paparan polusi udara. Kecamatan Jekan Raya dan Pahandut menjadi wilayah yang mendapat perhatian karena tingginya risiko paparan asap serta jumlah penduduk yang terdampak. Petugas kesehatan melakukan pemantauan dan pendataan untuk memastikan warga yang membutuhkan bantuan dapat memperoleh pelayanan. Selain pemeriksaan langsung, layanan kunjungan rumah juga menjadi salah satu pendekatan untuk menjangkau masyarakat yang kesulitan mendatangi fasilitas kesehatan. Langkah tersebut diharapkan dapat mengurangi dampak kesehatan selama kebakaran hutan dan lahan masih terjadi.
Dampak kabut asap tidak hanya dirasakan dalam bidang kesehatan, tetapi juga memengaruhi kegiatan pendidikan di Palangka Raya. Pemerintah daerah sebelumnya memperpanjang pelaksanaan pembelajaran jarak jauh bagi peserta didik jenjang pendidikan anak usia dini, sekolah dasar, dan sekolah menengah pertama pada 15–17 Oktober 2026. Kebijakan tersebut diambil setelah pemantauan kualitas udara menunjukkan kondisi yang berisiko bagi kesehatan siswa. Pembatasan kegiatan luar ruangan menjadi salah satu langkah untuk mengurangi paparan asap terhadap anak-anak. Masyarakat juga diimbau menggunakan masker yang mampu menyaring partikel halus, seperti N95, ketika harus beraktivitas di luar rumah. Selain itu, menjaga kebersihan udara dalam ruangan dan mengurangi aktivitas fisik berat di luar rumah dapat membantu membatasi paparan polusi.
Peningkatan kasus ISPA hingga 11.276 menjadi peringatan mengenai besarnya dampak kebakaran hutan dan lahan terhadap kesehatan masyarakat Palangka Raya. Penanganan medis perlu berjalan bersamaan dengan upaya pemadaman kebakaran dan pencegahan munculnya titik api baru. Pemerintah daerah bersama instansi terkait diharapkan terus memperkuat pengawasan kawasan rawan kebakaran, terutama lahan gambut yang berpotensi menghasilkan asap berkepanjangan. Partisipasi masyarakat juga diperlukan melalui pelaporan dini apabila menemukan kebakaran atau aktivitas pembakaran lahan. Selama kualitas udara belum kembali membaik, perlindungan terhadap anak-anak, lansia, dan penderita penyakit pernapasan harus tetap menjadi prioritas. Pengendalian karhutla secara menyeluruh menjadi langkah penting untuk mencegah bertambahnya kasus gangguan kesehatan dan memulihkan aktivitas masyarakat.