Jakarta, 27 September 2026 –
Penggunaan cat rambut telah menjadi bagian dari perawatan penampilan bagi banyak orang, tetapi pertanyaan mengenai kemungkinan kaitannya dengan kanker payudara masih terus diteliti. Sejumlah penelitian memang menemukan hubungan antara penggunaan jenis cat rambut tertentu dan peningkatan risiko kanker payudara, terutama pada pewarna rambut permanen. Namun, temuan tersebut belum membuktikan bahwa cat rambut secara langsung menyebabkan kanker. National Cancer Institute (NCI) menyebut hasil penelitian mengenai hubungan pewarna rambut dan kanker payudara masih beragam serta tidak sepenuhnya konsisten. Karena itu, risiko perlu dilihat berdasarkan jenis produk, frekuensi penggunaan, kandungan kimia, dan berbagai faktor kesehatan lainnya.
Perhatian terbesar selama ini tertuju pada pewarna rambut permanen atau oksidatif. Produk jenis ini bekerja dengan menciptakan perubahan kimia yang bertahan pada batang rambut dan umumnya menggunakan zat antara pewarna serta hidrogen peroksida untuk menghasilkan warna. Pewarna berwarna lebih gelap juga dapat menggunakan konsentrasi bahan pewarna tertentu yang lebih tinggi. Formula pewarna rambut telah berubah dibandingkan beberapa dekade lalu setelah sejumlah bahan yang menimbulkan kekhawatiran mengenai kanker tidak lagi digunakan dalam formulasi modern. Perubahan komposisi tersebut menjadi salah satu alasan mengapa hasil penelitian lama tidak selalu dapat diterapkan langsung pada produk yang beredar sekarang.
Salah satu penelitian besar yang banyak menjadi perhatian adalah Sister Study yang melibatkan 46.709 perempuan berusia 35–74 tahun di Amerika Serikat. Penelitian tersebut menemukan perempuan yang menggunakan pewarna rambut permanen secara teratur dalam setahun sebelum mengikuti penelitian memiliki risiko kanker payudara sekitar 9 persen lebih tinggi dibandingkan mereka yang tidak menggunakannya. Hubungan yang ditemukan berbeda menurut kelompok ras dalam populasi penelitian, dengan peningkatan risiko yang lebih besar terlihat pada perempuan kulit hitam. Sementara itu, penggunaan pewarna rambut semi-permanen atau sementara secara pribadi tidak menunjukkan peningkatan risiko yang serupa. Para peneliti menegaskan hasil tersebut menunjukkan hubungan statistik dan bukan bukti bahwa pewarna rambut menjadi penyebab langsung kanker payudara.
Frekuensi pemakaian juga menjadi bagian yang diteliti. Dalam Sister Study, perempuan kulit hitam yang menggunakan pewarna permanen setiap lima hingga delapan minggu atau lebih sering memiliki peningkatan risiko yang lebih besar dibandingkan mereka yang tidak menggunakannya. Namun, angka tersebut tidak berarti seseorang yang sering mengecat rambut pasti akan terkena kanker payudara. Risiko kanker merupakan hasil interaksi banyak faktor, termasuk usia, riwayat keluarga, faktor genetik, hormon, konsumsi alkohol, berat badan setelah menopause, aktivitas fisik, dan berbagai paparan lingkungan. Hasil suatu penelitian epidemiologis karena itu harus dipahami sebagai perubahan risiko pada suatu populasi, bukan ramalan mengenai apa yang pasti terjadi pada individu.
American Cancer Society juga menyatakan penelitian mengenai pewarna rambut permanen dan kanker payudara memberikan hasil yang bercampur. Banyak penelitian tidak menemukan peningkatan risiko, sementara beberapa penelitian yang lebih baru menemukan kemungkinan hubungan pada kelompok atau pola penggunaan tertentu. International Agency for Research on Cancer juga belum mengklasifikasikan penggunaan pribadi pewarna rambut sebagai karsinogen bagi manusia karena bukti yang tersedia belum memadai untuk membuat kesimpulan tersebut. Hal ini berbeda dengan paparan pekerjaan pada penata rambut atau tukang cukur, yang telah mendapat perhatian tersendiri karena pola dan tingkat paparannya berbeda. Dengan demikian, menyatakan bahwa sering mengecat rambut pasti menyebabkan kanker payudara tidak didukung oleh bukti ilmiah yang tersedia saat ini.
Bagi orang yang tetap ingin mewarnai rambut tetapi khawatir terhadap paparannya, pendekatan yang masuk akal adalah menggunakan produk sesuai petunjuk, tidak membiarkannya menempel lebih lama dari waktu yang direkomendasikan, memakai sarung tangan ketika mengaplikasikannya sendiri, serta menghindari penggunaan pada kulit kepala yang sedang mengalami luka atau iritasi. Mengurangi frekuensi penggunaan pewarna permanen juga dapat menjadi pilihan pribadi untuk membatasi paparan bahan kimia. Pewarna sementara atau semi-permanen dapat dipertimbangkan karena dalam salah satu penelitian besar tersebut penggunaan pribadinya tidak dikaitkan dengan peningkatan risiko kanker payudara. Meski demikian, tidak ada metode pewarnaan rambut yang dapat dijadikan satu-satunya dasar untuk menentukan risiko kanker seseorang.
Kesimpulannya, sering menggunakan cat rambut permanen memang telah dikaitkan dengan peningkatan risiko kanker payudara dalam beberapa penelitian, tetapi hubungan sebab-akibat belum terbukti dan hasil penelitian secara keseluruhan masih belum konsisten. Temuan ilmiah tersebut lebih tepat digunakan sebagai informasi untuk mempertimbangkan tingkat paparan daripada alasan untuk menganggap setiap pengguna cat rambut berada dalam bahaya besar. Pemeriksaan payudara sesuai rekomendasi berdasarkan usia dan faktor risiko tetap jauh lebih penting dalam upaya deteksi dini. Orang dengan riwayat kanker payudara dalam keluarga atau faktor risiko lain juga dapat mendiskusikan skrining yang sesuai dengan tenaga kesehatan. Penelitian lanjutan masih diperlukan untuk memahami apakah bahan tertentu, warna tertentu, frekuensi pemakaian, atau kombinasi paparan produk rambut mempunyai peran terhadap risiko kanker payudara dalam jangka panjang.