Jakarta, 4 September 2026 – Anggota DPD RI asal Bali I Gusti Ngurah Arya Wedakarna memberikan klarifikasi setelah kehadirannya dalam rangkaian Miss Equality World 2026 di Bangkok, Thailand, menjadi sorotan publik. Foto dan video yang memperlihatkan Arya berada dalam kegiatan tersebut beredar luas di media sosial dan memunculkan pertanyaan mengenai kapasitasnya sebagai pejabat publik. Arya menegaskan dirinya tidak datang dengan kapasitas sebagai anggota DPD RI maupun membawa mandat lembaga legislatif tersebut. Ia menyebut kehadirannya merupakan bagian dari aktivitas pribadi sebagai tokoh Bali sekaligus mewakili lembaga Hindu. Menurut Arya, rangkaian acara yang diikutinya tidak hanya berkaitan dengan kontes kecantikan, tetapi juga mencakup kegiatan sosial, budaya, pariwisata, kunjungan ke tempat ibadah, pameran, hingga pemberian penghargaan. Penjelasan tersebut disampaikan untuk meluruskan persepsi yang berkembang setelah dokumentasi kehadirannya menjadi perhatian masyarakat.
Arya menjelaskan awal keterlibatannya bermula ketika menerima panitia dari sebuah organisasi internasional pada sekitar Juni 2026 di Jembrana, Bali. Organisasi tersebut disebut memiliki jaringan di sejumlah negara dan sebelumnya pernah menjalankan kegiatan sosial di Bali. Dalam pertemuan itu, Arya mengaku hadir sebagai pribadi sekaligus tokoh budaya Hindu dan menerima penjelasan mengenai sejumlah agenda yang akan dilaksanakan di Thailand. Salah satu bagian yang disampaikan kepadanya berkaitan dengan promosi pariwisata Bali dan pemberian penghargaan. Dari komunikasi tersebut kemudian muncul undangan untuk menghadiri rangkaian kegiatan di Bangkok. Arya menegaskan undangan tersebut tidak diterimanya dalam kapasitas kelembagaan sebagai anggota DPD RI.
Menurut Arya, kegiatan selama berada di Thailand memiliki rangkaian yang cukup beragam dan tidak hanya berpusat pada satu acara. Ia menyebut sempat mengikuti kunjungan ke vihara Buddha dan kuil Hindu serta melihat sejumlah pameran dan kegiatan diskusi. Puncak rangkaian berlangsung pada 30 Agustus 2026 dengan agenda pemberian penghargaan kepada sejumlah tokoh. Dalam kesempatan tersebut, Arya hadir mengenakan pakaian adat Bali dan menerima penghargaan yang menurut keterangannya diberikan dalam kapasitas sebagai tokoh budaya Bali. Ia juga menyebut terdapat materi video yang mempromosikan pariwisata Bali, termasuk alam dan pantainya. Baginya, kehadiran tersebut merupakan kesempatan untuk mewakili citra budaya dan pariwisata Bali dalam sebuah kegiatan internasional.
Sorotan publik terutama muncul karena Miss Equality World 2026 dikenal sebagai ajang yang melibatkan peserta transgender. Arya mengaku sebelumnya tidak mengetahui secara khusus latar belakang tersebut ketika menerima undangan dan mengikuti rangkaian kegiatan. Ia mengatakan dirinya tidak merasa memiliki kepentingan untuk mempertanyakan identitas gender pihak yang memberikan penghargaan kepadanya. Menurutnya, etika sebagai tamu membuat dirinya menghargai pihak penyelenggara yang telah memberikan apresiasi terhadap Bali. Arya juga menyinggung Thailand sebagai negara dengan keragaman ekspresi gender yang sudah dikenal luas. Namun ia menegaskan kehadirannya tidak dimaksudkan untuk mewakili sikap politik maupun kelembagaan DPD RI terhadap isu tertentu.
Arya juga menekankan dirinya hadir sebagai Presiden Hindu Center of Indonesia sekaligus tokoh budaya, bukan sebagai delegasi resmi DPD. Penjelasan mengenai kapasitas tersebut menjadi penting karena statusnya sebagai anggota lembaga negara membuat aktivitasnya mendapatkan perhatian lebih besar dibandingkan masyarakat biasa. Menurut Arya, penggunaan pakaian adat Bali pada kegiatan tersebut juga menunjukkan dirinya membawa identitas budaya dan bukan atribut resmi DPD RI. Ia mengaku tidak menyampaikan pidato dalam acara puncak dan hanya mengikuti prosesi penerimaan penghargaan sebelum meninggalkan lokasi. Dengan penjelasan itu, Arya ingin memisahkan aktivitas pribadinya sebagai tokoh masyarakat dengan jabatan politik yang saat ini diembannya. Meski demikian, status sebagai pejabat publik tetap membuat persoalan tersebut berkembang menjadi pembahasan di tingkat kelembagaan.
Selain kehadiran Arya, perhatian juga tertuju pada seorang pria berseragam TNI yang terlihat mendampinginya selama berada di acara tersebut. Arya menjelaskan personel tersebut merupakan pengawal yang melekat kepadanya untuk kepentingan keamanan selama perjalanan di Thailand. Menurutnya, pendampingan dilakukan dengan mempertimbangkan kondisi keamanan kawasan dan berbagai perkembangan yang terjadi di sekitar Thailand. Ia menegaskan keberadaan pengawal tersebut tidak memiliki hubungan dengan substansi kegiatan Miss Equality World. Pengawal disebut menjalankan tugas untuk memastikan keamanan dirinya selama berada di luar negeri. Penjelasan itu kemudian menjadi bagian lain yang mendapatkan perhatian karena penggunaan personel berseragam dalam kegiatan di luar negeri turut dipertanyakan.
Markas Besar TNI menyatakan melakukan pengecekan dan pendalaman internal mengenai keberadaan personel berseragam tersebut. Pendalaman diarahkan untuk memastikan identitas prajurit, status penugasan, serta konteks keberadaannya di Thailand bersama Arya. Pemeriksaan diperlukan karena penggunaan seragam maupun penugasan personel TNI memiliki ketentuan yang harus dipatuhi. Hasil pendalaman nantinya dapat digunakan sebagai bahan evaluasi untuk menentukan apakah seluruh prosedur telah dijalankan sebagaimana mestinya. Proses tersebut berdiri terpisah dari klarifikasi Arya mengenai alasan kehadirannya dalam rangkaian kegiatan di Bangkok. Dengan demikian, terdapat dua aspek yang menjadi perhatian, yakni kapasitas Arya dalam acara dan status penugasan personel yang mendampinginya.
Persoalan tersebut juga mendapatkan perhatian Badan Kehormatan DPD RI yang memutuskan akan memanggil Arya untuk memberikan klarifikasi. Ketua BK DPD RI Hasby Yusuf mengatakan pemeriksaan diperlukan untuk memperoleh fakta secara utuh mengenai tujuan kehadiran Arya, kapasitasnya, pihak yang memberikan undangan, penyelenggara kegiatan, serta bentuk keterlibatan senator Bali tersebut. BK juga akan melihat apakah terdapat penggunaan atribut maupun fasilitas yang berkaitan dengan jabatan sebagai anggota DPD RI. Penjelasan langsung dari Arya diperlukan sebelum lembaga mengambil kesimpulan mengenai persoalan tersebut. BK menegaskan proses pemeriksaan bukan untuk mencari kesalahan anggota, melainkan memastikan kehormatan lembaga tetap terjaga. Setiap anggota tetap memiliki hak menjalankan aktivitas sebagai warga negara, tetapi pada saat bersamaan membawa tanggung jawab etik sebagai pejabat publik.
Pemanggilan tersebut juga akan menjadi kesempatan bagi Arya untuk menyampaikan kronologi secara lebih lengkap kepada Badan Kehormatan. Pernyataannya mengenai kehadiran sebagai pribadi dan tokoh Bali dapat diuji bersama informasi mengenai undangan serta rangkaian kegiatan yang diikutinya. BK dapat melihat apakah aktivitas tersebut memiliki keterkaitan dengan tugas kelembagaan atau sepenuhnya merupakan kegiatan di luar kapasitas sebagai senator. Kejelasan mengenai penggunaan fasilitas dan pengamanan juga menjadi bagian yang dapat didalami. Apabila tidak ditemukan pelanggaran, proses dapat diselesaikan berdasarkan ketentuan yang berlaku. Sebaliknya, apabila ditemukan tindakan yang dinilai bertentangan dengan kode etik, kepatutan, kehormatan jabatan, maupun ketentuan lain, BK dapat mengambil langkah sesuai kewenangannya.
Arya Wedakarna pada akhirnya menegaskan kehadirannya di Thailand tidak dimaksudkan untuk membawa nama DPD RI dalam Miss Equality World 2026. Ia mempertahankan penjelasan bahwa dirinya datang sebagai tokoh Bali, tokoh budaya Hindu, dan dalam kapasitas pribadi untuk menerima penghargaan serta menghadiri rangkaian promosi pariwisata. Meski klarifikasi telah disampaikan, persoalan tersebut kini memasuki tahap pemeriksaan kelembagaan karena BK DPD berencana meminta penjelasan langsung darinya. Mabes TNI pada saat yang sama masih mendalami status personel berseragam yang terlihat mendampingi Arya selama kegiatan. Hasil kedua proses tersebut akan memberikan gambaran lebih lengkap mengenai kapasitas kehadiran Arya dan penggunaan pengamanan selama berada di Thailand. Sampai pemeriksaan selesai, klarifikasi Arya menjadi penjelasan dari pihak yang bersangkutan dan belum menjadi kesimpulan akhir dari lembaga yang melakukan pendalaman.