Bandar Lampung, 5 September 2026 – Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal menilai generasi Z dan generasi setelahnya memiliki potensi besar menjadi kekuatan ekonomi baru di Provinsi Lampung. Besarnya jumlah penduduk muda dinilai dapat menjadi modal penting untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi apabila diikuti peningkatan kualitas sumber daya manusia, literasi keuangan, kemampuan digital, dan akses terhadap kegiatan produktif. Mirzani melihat generasi muda bukan hanya sebagai kelompok konsumen, tetapi juga calon pengusaha, tenaga profesional, inovator, dan pencipta lapangan kerja pada masa mendatang. Perubahan teknologi yang berlangsung cepat memberikan peluang kepada anak muda untuk mengembangkan kegiatan ekonomi tanpa selalu bergantung pada pola usaha konvensional. Karena itu, pemerintah daerah ingin memberikan ruang lebih luas agar kreativitas generasi muda dapat berkembang menjadi kegiatan ekonomi bernilai tambah. Potensi tersebut diharapkan ikut memperkuat struktur perekonomian Lampung yang selama ini banyak ditopang sektor pertanian dan komoditas.
Mirzani menyampaikan pandangan tersebut dalam rangkaian Lampung Financial Festival 2026 yang berlangsung di Bandar Lampung pada 5–6 September. Kegiatan tersebut diarahkan untuk memperkuat pemahaman masyarakat mengenai pengelolaan keuangan, dengan generasi muda menjadi salah satu kelompok utama yang disasar. Pelajar dan mahasiswa dinilai membutuhkan pengetahuan keuangan sejak dini karena mereka akan menjadi bagian penting dari aktivitas ekonomi dalam beberapa tahun mendatang. Kemampuan mengelola pendapatan, tabungan, investasi, dan pembiayaan secara sehat menjadi bekal penting sebelum mereka memasuki dunia kerja maupun membangun usaha. Pemerintah Provinsi Lampung menilai literasi keuangan harus berkembang beriringan dengan kemampuan menggunakan teknologi digital. Dengan pemahaman yang memadai, anak muda diharapkan mampu memanfaatkan berbagai instrumen keuangan formal secara lebih aman dan produktif.
Besarnya potensi generasi muda juga berkaitan dengan struktur demografi Lampung yang memberikan ruang cukup besar bagi pertumbuhan tenaga kerja produktif. Mirzani menilai kondisi tersebut harus dimanfaatkan melalui kebijakan pendidikan dan ekonomi yang mampu menghubungkan kemampuan anak muda dengan kebutuhan dunia usaha. Generasi Z tumbuh ketika teknologi digital berkembang pesat sehingga memiliki karakter dan cara bekerja yang berbeda dibandingkan generasi sebelumnya. Mereka relatif cepat beradaptasi dengan perdagangan digital, media sosial, layanan keuangan berbasis teknologi, hingga berbagai model pekerjaan baru. Kemampuan tersebut dapat menjadi keuntungan bagi daerah apabila diarahkan pada aktivitas produktif dan pengembangan usaha. Pemerintah daerah karena itu ingin membangun ekosistem yang membuat anak muda tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi mampu menciptakan produk dan layanan dari perkembangan tersebut.
Di sisi lain, perkembangan teknologi juga membawa risiko yang perlu dipahami oleh generasi muda. Pemerintah Provinsi Lampung sebelumnya menyoroti maraknya pinjaman daring ilegal dan judi daring yang dapat menjerat masyarakat, termasuk pelajar dan mahasiswa. Rendahnya pemahaman mengenai produk keuangan dapat membuat seseorang mudah tergoda tawaran keuntungan cepat maupun pinjaman dengan persyaratan yang tidak dipahami secara menyeluruh. Kondisi tersebut menjadi alasan edukasi mengenai pengelolaan keuangan dinilai semakin penting. Generasi muda perlu memahami perbedaan antara produk keuangan legal dan ilegal sekaligus mengetahui risiko dari setiap keputusan finansial. Literasi yang baik diharapkan membantu mereka menggunakan teknologi keuangan sebagai sarana membangun aset dan kegiatan produktif, bukan justru menjadi sumber masalah ekonomi.
Peluang bagi generasi muda Lampung juga semakin terbuka seiring membaiknya sejumlah indikator perekonomian daerah. Pada triwulan pertama 2026, ekonomi Lampung tercatat tumbuh 5,58 persen secara tahunan dan menjadi salah satu pertumbuhan tertinggi di Pulau Sumatera. Pertanian masih menjadi salah satu penopang utama dengan kontribusi besar terhadap struktur ekonomi daerah, didukung komoditas seperti padi, jagung, kopi, dan singkong. Pemerintah daerah ingin pertumbuhan tersebut menghasilkan peluang yang lebih luas bagi generasi muda melalui hilirisasi dan pengembangan industri berbasis komoditas lokal. Anak muda dapat mengambil peran mulai dari pengolahan produk, pemasaran digital, pengembangan merek, logistik, teknologi pertanian, hingga pembukaan akses pasar. Dengan cara tersebut, sektor pertanian tidak hanya identik dengan kegiatan produksi primer, tetapi berkembang menjadi ekosistem usaha yang lebih modern.
Pengembangan kewirausahaan menjadi salah satu jalur yang dinilai dapat memperbesar kontribusi generasi muda terhadap perekonomian Lampung. Anak muda memiliki peluang membangun usaha dengan memanfaatkan potensi daerah tanpa harus meninggalkan desa maupun berpindah ke kota besar. Produk pertanian dan pangan lokal dapat dikembangkan melalui inovasi pengolahan, kemasan, pemasaran, dan distribusi menggunakan platform digital. Pemerintah daerah juga mendorong hilirisasi agar komoditas Lampung tidak terus dijual dalam bentuk bahan mentah dengan nilai tambah yang relatif terbatas. Keterlibatan generasi muda dalam proses tersebut dapat menghadirkan pendekatan baru yang lebih dekat dengan teknologi dan kebutuhan pasar. Jika didukung pembiayaan serta pendampingan yang tepat, usaha yang bermula dari skala kecil berpotensi tumbuh dan membuka lapangan kerja bagi masyarakat sekitar.
Mirzani sebelumnya juga menekankan bahwa pembangunan ekonomi Lampung perlu semakin berorientasi dari bawah dengan memperkuat desa sebagai pusat kegiatan produktif. Sebagian besar penduduk Lampung masih memiliki hubungan kuat dengan kawasan perdesaan dan sektor pertanian sehingga pertumbuhan ekonomi tidak boleh hanya terkonsentrasi di perkotaan. Generasi muda desa diharapkan ikut mengembangkan potensi lokal melalui usaha berbasis pertanian, peternakan, perkebunan, pariwisata, ekonomi kreatif, dan perdagangan. Kehadiran Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih serta penguatan BUMDes dapat menjadi bagian dari ekosistem yang mendukung aktivitas tersebut. Anak muda dapat mengambil peran dalam pengelolaan, pemasaran, digitalisasi, maupun pengembangan produk sehingga kelembagaan ekonomi desa semakin adaptif. Dengan demikian, peluang ekonomi dapat tumbuh lebih dekat dengan tempat tinggal masyarakat.
Sektor UMKM juga menjadi ruang penting bagi keterlibatan generasi muda karena Lampung memiliki ratusan ribu pelaku usaha dengan beragam produk. Tantangan yang masih dihadapi antara lain kapasitas produksi, kualitas produk, akses pembiayaan, pemasaran, dan kemampuan menembus pasar yang lebih luas. Generasi muda dengan kemampuan teknologi dinilai dapat membantu menjawab sebagian tantangan tersebut melalui digitalisasi proses usaha dan pemasaran. Penggunaan media sosial, perdagangan elektronik, pembayaran digital, dan pengelolaan data pelanggan dapat membuat UMKM lebih kompetitif. Namun, kemampuan digital tetap perlu dibarengi pengetahuan bisnis agar usaha tidak hanya ramai dalam jangka pendek tetapi mampu bertahan secara berkelanjutan. Kolaborasi antara pelaku usaha berpengalaman dengan generasi muda juga dapat mempercepat proses transformasi UMKM di daerah.
Pemerintah Provinsi Lampung karena itu menempatkan peningkatan kualitas sumber daya manusia sebagai bagian penting dalam strategi pembangunan ekonomi. Pendidikan, keterampilan kerja, literasi digital, kewirausahaan, dan pemahaman keuangan perlu saling mendukung agar bonus demografi dapat memberikan manfaat maksimal. Pertumbuhan jumlah penduduk usia produktif dapat menjadi keuntungan apabila tersedia lapangan kerja dan ruang usaha yang cukup, tetapi dapat berubah menjadi tantangan apabila kesempatan ekonomi tidak berkembang sebanding. Pemerintah daerah juga membutuhkan keterlibatan dunia usaha, lembaga keuangan, perguruan tinggi, dan komunitas dalam menyiapkan generasi muda menghadapi perubahan kebutuhan pasar kerja. Program pelatihan sebaiknya diarahkan pada keterampilan yang benar-benar dibutuhkan industri maupun peluang usaha yang tersedia di Lampung. Dengan pendekatan tersebut, anak muda dapat memiliki pilihan lebih luas antara menjadi tenaga profesional atau membangun usaha sendiri.
Mirzani berharap besarnya jumlah Gen Z dan generasi setelahnya dapat menjadi kekuatan yang memperluas sumber pertumbuhan ekonomi Lampung pada masa mendatang. Potensi itu perlu diarahkan melalui pendidikan yang relevan, literasi keuangan yang kuat, pemanfaatan teknologi, serta akses terhadap pembiayaan dan dunia usaha. Pemerintah daerah ingin generasi muda ikut mengambil bagian dalam transformasi sektor pertanian, hilirisasi komoditas, UMKM, ekonomi kreatif, dan berbagai kegiatan berbasis digital. Pertumbuhan ekonomi daerah diharapkan tidak hanya tercermin melalui peningkatan angka statistik, tetapi juga menghasilkan kesempatan kerja dan peningkatan pendapatan masyarakat. Generasi muda memiliki posisi strategis karena akan menjadi pelaku utama perekonomian Lampung dalam beberapa tahun ke depan. Dengan ekosistem yang mendukung kreativitas dan produktivitas, Gen Z diharapkan mampu berkembang menjadi salah satu penggerak baru ekonomi Lampung.