Surabaya, 3 Oktober 2026 – Lima tahun setelah merger PT Pelabuhan Indonesia (Persero) atau Pelindo, transformasi pengelolaan terminal peti kemas terus diarahkan pada standardisasi layanan dan peningkatan efisiensi. PT Pelindo Terminal Petikemas mencatat produktivitas terminal meningkat lebih dari 70 persen sejak integrasi dilakukan pada 2021. Peningkatan tersebut juga diikuti berkurangnya waktu singgah kapal dan barang di pelabuhan. Standardisasi menjadi salah satu instrumen utama untuk menyelaraskan kualitas operasional terminal yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia.
Corporate Secretary PT Pelindo Terminal Petikemas Widyaswendra mengatakan transformasi dilakukan melalui standardisasi, sistematisasi proses, serta peningkatan kompetensi sumber daya manusia. Saat ini perusahaan mengelola 32 terminal peti kemas dan hampir seluruhnya disebut telah menunjukkan perbaikan. Integrasi memungkinkan standar kompetensi dan pengetahuan diterapkan secara lebih seragam dibandingkan sebelum merger. Dampaknya terlihat pada peningkatan produktivitas sekaligus efisiensi pelayanan kepada pengguna jasa.
Merger juga memberikan ruang lebih besar untuk mengoptimalkan penggunaan peralatan antarterminal. Peralatan dari terminal yang memiliki kapasitas mencukupi dapat dialihkan ke lokasi lain yang lebih membutuhkan, sementara sejumlah terminal juga menjalani modernisasi. Strategi tersebut membantu mengatasi keterbatasan alat yang sebelumnya menjadi salah satu kendala operasional. Perbaikan produktivitas selanjutnya berdampak pada penurunan port stay dan cargo stay.
Peningkatan kinerja terminal turut membuka peluang pengembangan bisnis baru. Produktivitas yang lebih tinggi memungkinkan Pelindo mengembangkan kerja sama antarkorporasi sekaligus mendorong pembukaan rute dan layanan baru. Widyaswendra mengatakan perbaikan operasional diharapkan pada akhirnya menekan biaya operasional kapal dan mendukung efisiensi logistik nasional. Konektivitas antarpelabuhan juga menjadi bagian yang ingin diperkuat melalui transformasi tersebut.
Ketua Umum DPP Indonesian National Shipowners’ Association (INSA) Carmelita Hartoto menyebut perbaikan layanan selama lima tahun setelah merger telah dirasakan perusahaan pelayaran di berbagai wilayah. Meski demikian, pembenahan dinilai masih perlu dilanjutkan agar pelayanan semakin terintegrasi dan memberikan kepastian bagi pelaku usaha. Salah satu perhatian industri pelayaran adalah kondisi peralatan bongkar muat karena berpengaruh langsung terhadap produktivitas kapal. Perbaikan maupun penggantian peralatan diharapkan dapat membuat waktu singgah kapal semakin efisien.
Pengamat supply chain Institut Teknologi Sepuluh Nopember Raja Oloan Saut Gurning menilai standardisasi Pelindo telah terlihat dari penyelarasan proses bisnis, penggunaan Terminal Operating System dan indikator kinerja. Namun, kualitas pelayanan riil antarterminal belum sepenuhnya seragam secara nasional. Perbedaan geografis, karakteristik kapal, dukungan hinterland serta spesifikasi peralatan membuat produktivitas masing-masing terminal memiliki tantangan berbeda. Terminal di kawasan sungai pasang-surut, misalnya, memiliki kondisi operasional yang berbeda dengan pelabuhan laut dalam.
Lima tahun setelah integrasi, tantangan Pelindo berikutnya adalah memastikan standardisasi sistem dapat diikuti peningkatan keandalan peralatan dan konsistensi layanan di seluruh terminal. Kesiapan alat di sejumlah terminal luar Jawa dinilai masih belum merata sehingga membutuhkan pembenahan berkelanjutan. Pelindo Terminal Petikemas saat ini mengelola 32 terminal dan didukung tujuh anak perusahaan dalam jaringan bisnis peti kemas nasional. Transformasi tersebut diarahkan untuk memperkuat konektivitas maritim sekaligus membuat rantai logistik nasional semakin efisien dan kompetitif.